Sebagai warga Indonesia, bongkahan es batu dicampur dengan teh manis menjadi minuman favorit semua kalangan. Minuman ini jadi pilihan paling aman menemani berbagai jenis makanan, dari cemilan sampai makanan besar. Namun, ternyata tak semua minuman teh itu cocok dipasangkan dengan es batu. Intervensi es batu terhadap ideologi chai justru menjadi bentuk penistaan.
Berkenalan dengan Chai Pakistan
Saya tinggal di lingkungan dengan beragam kewarganegaraan. Salah satunya adalah negara Pakistan.
Dalam kesehariannya, kawan-kawan saya ini sering kali membuat minuman bernama ‘chai’. Minuman ini terbuat dari campuran susu segar, teh hitam, kapulaga, jinten, dan gula. Kadang pula ditambah garam agar seimbang. Semuanya direbus bersamaan sampai mendidih.
Biasanya mereka menyeruput teh ini di pagi atau sore hari, sambil ditemani dengan roti chanai atau sekadar diteguk tanpa embel-embel hidangan lainnya.
Beda Budaya, Beda Cara Penyajian
Suatu ketika, ketika saya mampir ke dapur. Salah seorang kawan asal Pakistan kebetulan sedang memasak minuman ini. Ia menawarkan segelas chai.
Suhunya tentu panas. Secara refleks, saya menambahkan bongkahan batu ke dalam gelas. Wajar, bukan? Toh, kita biasa menambahkan es ke dalam teh manis agar lebih segar. Bukankah chai sama juga? Apalagi cuaca Depok lumayan tak bersahabat.
Namun, ekspresi marah terpancar dari wajahnya. Sambil bertanya dengan sedikit agak menyindir
“Kenapa ditambahin es?,” tanyanya
“Biar lebih segar,” jawab saya sambil mengaduk minuman.
“Es bikin rasanya berubah,” timpalnya.
Kawan saya itu meminta saya untuk menyeruput teh dalam gelas apa adanya. Dipikir-pikir, masuk akal juga. Es yang mencair justru akan mengurangi keautentikan rasanya. Rasanya tidak sekuat seperti sedia kala.
Menambahkan Es Justru Membuat Patah Hati
Di lain kesempatan, kawan yang lainnya juga menyuguhkan teh chai ini. Niat hati bercanda, “Bagaimana kalau tambahkan es batu?”, tanya saya sambil becanda
“Jangan. Itu bikin saya patah hati”
Dari sini, saya belajar bahwa jangan sembarangan untuk menambahkan bahan makanan lain di jenis makanan orang lain. Rupanya berbagai jenis makanan tak sekedar kudapan. Ia juga jadi identitas bangsa.
Perbedaan komposisi teh juga berbeda. Di es teh manis, kita hanya membutuhkan air, teh, dan gula. Sedangkan di chai, komposisinya lumayan kompleks. Mungkin itu yang menjadi alasan kawan saya tadi kekeh kalau es teh manis dan chai itu jauh berbeda.
“Bahan-bahan es teh manis jelas berbeda dengan chai,” jelasnya ketika saya menyamakan es teh manis dengan chai.
Teh dan Cultural Relativism
Bisa ditarik lebih jauh, isu teh dan es ini mengingatkan saya dengan konsep universalism dan cultural relativism. Tulisan ini adalah salah satu gambaran kecil tentang cultural relativism. Maksudnya, segala sesuatu punya budaya masing-masing, nilai masing-masing, alias value masing-masing. Kalau dipaksakan mempunyai value yang sama, bisa jadi justru muncul masalah. Tak cocok.
Ibarat cara menyapa. Di satu budaya, menatap mata lawan bicara bisa dianggap sebagai bentuk penghormatan. Namun, di budaya lain, justru menundukkan pandangan kepada orang yang lebih tua merupakan bentuk kesopanan. Tindakannya berbeda, tetapi keduanya lahir dari nilai yang sama-sama dianggap baik oleh masing-masing golongan.
Mungkin begitulah chai dan es batu. Bagi kita, es batu adalah simbol kesegaran. Bagi mereka, memasukkannya ke dalam chai justru mengubah sesuatu yang sejak awal sudah punya cara sendiri untuk dinikmati.

Leave a comment