Artificial intelligence alias AI semakin ga karuan di ranah akademik. Sebagai mahasiswa yang baru mengenalnya dua tahun lalu, saya lihat ada perubahan drastis di dalam bidang tulisan. Mulai dari kesalahan yang dibuat-buat sampai klaim tak mendasar tulisan hasil generatif padahal tulisan sendiri.

Sebelum vs Setelah AI

Sebelum mengenal AI di jenjang sarjana, semua bahan skripsi dari mulai latar belakang, metode, literatur review, sampai isinya saya ramu sendiri. Bantuanpun mentok-mentok pake google untuk cari informasi dan sumber bacaan atau hanya sebatas google translate untuk menerjemahkan.

Walhasil, untuk mendapat tulisan satu paragraf skripsi, butuh berjam-jam untuk melesaikannya. Bahkan berhari-hari. Walhasil, mustahil menyelesaikkannya skripsi hanya  dalam tiga minggu.

Proses mencari dan melambat tadi direnggut AI. Tugas membaca jurnal bisa langsung minta AI untuk merangkum.  AI bisa bikin tulisan bahkan satu jurnal full 5000 kata dalam hitungan detik. Lebih mendukung, bahkan aplikasi pembaca pdfnya sendiri yang menyediakan jasa untuk merangkum itu. ‘Gunakan AI untuk merangkum?’ begitu kira-kira fitur yang disediakan.

Gara-gara ini, kemampuan mahasiswa semakin menyusut.  Kemampuan yang dibutuhkan bukan lagi membaca kritis halaman buku, melainkan membuat prompt yang sesuai kebutuhan. Sekarang berseleweran bagaimana trik bikin prompt di media sosial.

Di ranah akademik, berbagai aturan pun dibuat. Misalnya, untukmengecek nilai tugas siswa, aturannya bukan hanya cek plagiasi, namun bertambah dengan juga cek AI. Aturan yang bikin kesal sendiri, untuk mengcek AI pun harus pakai AI juga yang bisa juga salah sasaran.

Kesalahan Ejaan yang Disengaja

Lucunya, untuk menghindari pendeteksian AI, berbagai trik dilakukan. Beberapa orang saya amati—berhubung  saya punya pengalaman sebagai editor artikel—memiliih menyalahkan ejaan agar terlihat alami. Caranya, tulisan buatan AI diedit lagi dengan menyalahgunakan beberapa ejaan huruf dengan sengaja di akhir kata atau dengan menghilangkan spasi di antara dua kata.

Maklum, AI memang teknologi tanpa dosa kalau masalah susunan kata. Jadi, dengan menyalahkannya dalam teknik penulisan ejaan, bisa terlihat sedikit manusiawi.

Ironisnya, kesalahan yang dulu buru-buru kita perbaiki saat mengedit tulisan, sekarang malah sengaja dipelihara. Salah ketik yang biasanya bikin editor gatal ingin membetulkan justru dipertahankan demi meyakinkan mesin bahwa tulisan tersebut dibuat manusia.

Tulisan Orisinil Dikira Buatan AI Karena Em Dash

Gaya pakai em dash, juga digadang-gadang jadi ciri khas AI. Walhasil, banyak penulis yang saya kenal kesal dikira tulisan AI generated gara-gara tulisannya pakai em dash, padahal dia tulis secara orisinil.

Saya pun begitu, gara-gara ini, saya seringkali menghindari emdash. Maklum, malas debat dan menjelaskan. Apalagi kalau urusannya dengan AI detector, was-was kalau gara-gara em dash tulisannya terdeketeksi AI.

Padahal, em dash hanyalah tanda baca. Ia sudah dipakai manusia jauh sebelum AI ramai masuk ruang kelas, jurnal, dan meja editor. Namun, di tengah demam AI detector, tanda baca pun ikut dicurigai. Seolah-olah untuk membuktikan tulisan itu benar-benar buatan manusia, kita harus menghindari hal-hal yang dianggap terlalu nge-AI, seperti kalimat terlalu rapi, pilihan kata terlalu teratur, sampai tanda baca tertentu.

Jangan Dikira Pembaca Tak Tahu

Bagi yang sudah menyelam di dunia penulisan, para penikmat tulisan tentu bisa membedakan. Tulisan hasil kreatifitas sendiri punya nyawanya sendiri. Alurnya jelas dan masuk logika. Tiap kata yang dibaca seolah bercakap langsung dengan si pembaca. Beda dengan hasil tulisan AI, tulisannya tak bernyawa dan sering kali logikanya terlalu dipaksakan.

Silakan juga tanya dosen. Mereka juga pasti tahu tugas mahasiswa yang pakai AI dan tidak. Mereka berpengalaman, Bung. Berpuluh-puluh tahun membaca karya orisinil, tiba-tiba sekarang disuruh membaca tugas mahasiswa yang dibuat sejam sebelum deadline.

 

Posted in

Leave a Reply

Discover more from Teh Uci

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading