Sungai Jeihun, Seihun, Nil dan Eufrat dinobatkan sebagai sungai yang mengalir dari surga. Begitu bunyi suatu hadis Nabi. Pikiran liar saya, seandainya hadis itu diucapkan Nabi di Indonesia—Cianjur, Jawa Barat misalnya—,mungkin narasi yang paling tepat bukan tentang sungai yang mengalir dari surga, melainkan curug yang turun sana.
Sungai Dalam Kajian Kitab Turos
Dalam perjalanan menulis tesis, saya membaca banyak kitab klasik ulama dari abad ke-7 hingga abad ke-15 Masehi. Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana mereka mengklasifikasikan jenis-jenis air, termasuk sungai.
Hampir senada, para ulama mengklasifikasikan sungai besar dengan istilah nahr ʿaẓīm (sungai besar), nahr ʿāmm (sungai publik), dan nahr ghayr mukhtaṣṣ (sungai yang tidak dimiliki secara khusus oleh siapa pun). Sungai jenis ini memiliki debit air yang melimpah sehingga para petani tidak perlu berebut air, membuat pembagian giliran (maqāsim), atau berselisih karena lahan pertanian mereka.
Dalam membahas sungai ini, ada satu narasi yang menurut saya menarik. Sungai besar juga sering dinobatkan dengan istilah mā ajrāhu Allāh—sungai yang airnya dialirkan oleh Allah. Maksudnya, manusia tidak perlu repot menggali sungai tersebut. Airnya keluar dan mengalir secara alami dengan sendirinya.

Hadis Nabi: Sungai-Sungai yang Berasal dari Surga
عن أبي هريرة قال رسول الله سَيْحَان وَجَيْحَان وَالْفُرَات وَالنِّيل كُلّ مِنْ أَنْهَار الْجَنَّة
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Seihan, Jeihan, Eufrat, dan Nil semuanya adalah sungai-sungai surga” (HR Muslim).
Dalam menguliti maksud hadis ini, Imam Nawawi dalam Syarhnya terhadap Sahih Muslim, juz 17, hal 177 menyebutkan, ada dua penjelasan mengenai makna hadis ini. Pertama, dan makna lebih simbolik, yang dimaksud surga dalam hadis tersebut karena wilayah yang dialiri sungai tersebut menjadi tempat menyebarnya iman dan peradaban Islam. Bisa juga dimaknai dengan artian bahwa banyak orang-orang yang memperoleh kebaikan dari sungai tersebut dan mengantarkannya ke surga. Pendapat kedua, hadis tersebut dimaknai secara literal. Maksudnya, sungai-sungai tersebut memang memiliki hubungan lahiriyah dengan surga dan mengandung material dari sana langsung. Menariknya, ternyata makna kedua inilah yang lebih sahih menurut Imam Nawawi.
Dalam catatan turos, sungai memang jadi simbolik keindahan. Ia selalu dikaitkan dengan surga. Selain hadis, al-Quran sudah terlebih dahulu mengasosiakan sungai sebagai elemen kebun surga.
Andai Hadis Lahir di Cianjur
Dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi Curug Cibereum yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Di sana ada tiga curug yang menjulang tinggi dengan sumber mata air gunung langsung. Setelah mengamati agak lama, saya jadi berpikir: seandainya—pakai law, bukan idhā atau in—hadis tadi diproduksi di Cianjur atau daerah sekitarnya, mungkin narasinya akan sedikit berbeda. Bukan sungai yang mengalir dari surga, tetapi air yang terjun dari langit ketujuh atau air yang terjun dari surga.

Alih-alih mengalir dari tanah yang horizontal, keindahan curug bisa terasa lebih menakjubkan. Ia turun secara vertikal dari sumber mata air pegunungan dan terjun bebas di lembah yang menukik. Selain airnya dijadikan sumber air bagi petani, keindahannya terasa berkali lipat dipandang oleh mata. Tak hanya air, pelangi yang tercipta dari pembiasan matahari dan tetesan air terjun menjadi bonus para pengunjung.
Lebih lanjut, saya juga berpikir, berapa kira-kira jarak harim atau zona protektif yang disandarkan ke sumber air ini. Kalau sumur saja bisa sampai 25 sampai 50 dziro, seharusnya air terjun juga lebih luas agar keindahannya tidak dirusak maupun dieksploitasi secara semena-mena.

Leave a comment