Baru saja saya melihat postingan mojok bahwa ada 11 bahasa di Indonesia yang sudahpunah. Sederet bahasa yang punah ini di antaranya bahasa Tandia dari Papua Barat, bahasa Mawes dari Papua, bahasa Kajeli dan Peru dari Maluku.
Sebenarnya, fenomena ini sudah saya saya cium sejak lama. Setidaknya ketika mulai merantau di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas di Brebes. Kebanyakan alasannya adalah karena keluarga lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di rumah. Selanjutnya, merantau jadi alasan kuat lainnya.
Awal Mula, Saya Pikir Bahasa Daerah Itu Kampungan
Sebagai orang yang tinggal di kampung selama kurang lebih dari 15 tahun, berbahasa Sunda jadi bahasa komunikasi setiap hari. Lingkungan keluarga dan teman bermain mempraktikannya sehari-hari.
Mendengar orang lain berbahasa Indonesia, saya akan melabeli dia sebagai wong kota. Keren, Begitu kira-kira. Apalagi kalau dia bisa bahasa Inggris. Bukan main namanya. Walhasil, framing yang terbentuk adalah, bahasa internasional dan Indonesia itu keren, sedangkan bahasa daerah itu kampungan.
Namun, lama-kelamaan, saya menyadari kalau berbahasa daerah itu punya privilege tersendiri. Ibarat kalau main bola, kamu sudah mengantongi satu gol dibandingkan dengan yang hanya bisa bahasa nasional.
CV Jadi Lebih Menarik di Mata Dosen
Ketika mendaftar di kampus internasional, dalam benak saya, mencantumkan bahasa asing bisa jadi kunci utama lolos masuk perguruan tinggi. Oleh karena itu, saya tulis bahasa Indonesia di kolom pertama, dilanjutkan dengan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, dan terakhir bahasa Inggris.
Alih-alih memuji kemampuan dua bahasa asing yang saya kuasai, pewawancara malah mengkritik CV saya. Kebetulan pewawancaranya mempunyai darah keturunan Sunda. Dia juga tahu kalau daerah saya berbahasa Sunda meskipun masuk dalam wilayah Jawa Tengah.
“Kenapa kamu ga cantumin bahasa Sunda di CV kamu. Kamu bisa Sunda, kan?” tanyanya.
“Iya, Pak,” jawab saya.
Sehabis wawancara itu, saya langsung mengedit CV sesuai rekomendasi. Setelah itu, saya juga selalu menggunakan versi terbaru untuk persyaratan di berbagai kesempatan.
Kuasai Bahasa Daerah Jadi Kunci Penelitian
Saya makin sadar kalau bahasa daerah itu jadi hal krusial dalam bidang penelitian. Paham Bahasa daerah jadi kunci untuk memahami realitas sosial. Apalagi kalau pendekatannya antropologi yang mengharuskan si peneliti hidup di tengah masyarakat. Mau ga mau, menguasai bahasa daerah setempat jadi sesuatu yang wajib bin harus.
Dengan penguasaan Bahasa daerah, si peneliti bisa mendapatkan informasi yang lebih komprehensif. Bayangin saja kalau orang Jakarta Selatan melakukan antropologi di daerah Baduy tanpa mengetahui Bahasa mereka. Sedangkan banyak warganya masih menganut Sunda Wiwitan dan tidak tahu bahasa Indonesia, apalagi kalangan lanjut usia.
Ketimpangan bahasa ini bisa jadi masalah serius bagi peneliti. Selain kurang luwes dalam menggali informasi, dia juga bisa jadi misinformasi karena gap bahasa yang ada.
Oleh karena itu menguasai bahasa daerah itu malah jadi nilai plus. Kita harus bangga. Selain menjaga warisan budaya oral, bahasa juga jadi kunci penting dalam dunia akademik.
Lebih Dekat Dengan Peneliti Senior
Bahasa itu taktik. Taktik untuk lebih akrab dengan peneliti senior. Maksudnya, dengan menggunakan bahasa daerah yang digunakan oleh lawan bicara, bisa jadi kamu akan dianggap lebih respek. Tidak perlu berbicara full untuk mendekati senior itu, cukup degan sapaan santai yang biasa dipakai.
Teman saya pernah bercerita bagaimana ia salah memahami konteks bahasa Jawa. Niatnya, ia ingin menggunakan sapaan agar lebih akrab dengan dosen. Panggillah dosen itu dengan sebutan ‘sampean’. Padahal, dalam hirarki bahasa Jawa, sapaan kamu untuk yang lebih tua atau dihormati itu bukan ‘sampean’, melainkan ‘panjenengan’. Alih-alih dapat pujian, ia malah kena semprot duluan.
Berbeda dengan temannya yang sudah tahu kata aman. Panggililah peneliti senior itu dengan sebutan ‘Mas’. Berhubung ‘Mas’ lebih universal, percakapan pun tak da hambatan.
Dari kasus ini, saya semakin bangga kalau saya bisa berbahasa Sunda. Walaupun saya Sunda perbatasan, tapi saya akan terus mencoba melestarikan.

Leave a comment