Kantong Kain Katanya Ngurangin Sampah Plastik, Tapi Jadi Masalah Baru di Ojek Makanan Online

Kantong kain digadang-gadang menjadi solusi pengurangan sampah. Para pemilik usaha pun meniadakan penyediaa kantong plastic di toko mereka dan menggantinya dengan menjual kantong kain yang katanya lebih ramah.

Tentu saya senang dengan kebijakan ini. Kalau ke alfamart misalnya, saya usahakan untuk bawa kentong kain untuk belanjaan. Kalau lupa, alamat harus beli lagi. Meskioun harganya tiga ribu rupiah, lunayan juga kalau harus beli terlalu sering.

Namun masalah muncul ketika ingin membeli makanan online. Nama-nama besar tak mengenal plasik lagi sebagai kantong. Merealisasikan toko yang lebih ramah, mereka mengganti kantung dengan bahan kain. Lengkap dengan tokonya.

Ini juga jadi stratgei yang cukup strategis. Lihat bagaimana, popularita kantung McD di antara para pekerja. Kantong kain hasil makan di restaurant, bisa di bawa ke mana-mana dan muti fungsi. Untuk bawa makanan oke, untuk bawa barang berukuran besar juga oke, dan banyak fungsinya lagi. Melalui lalau Lalang mantan konsumen, Mc Djadi ikan gratis di masyarakat.

Sayang beribu sayang, penggunaan kain  kian lama kian membingungkan. Ynag katanya awal ramah lingkungan, sekarang berubah jadi masalah baru lingkungan. Yang katanya mengurangi sampah sekarang berubah jadi jenis sampah baru yang susah diurai. Memang agak laen.

Sebagai bagian dari warga urban, kebutuhan seharian terkadang lebih mudah dilakukan secara online. Termasuk makanan. Maklum, mahasiswa semester akhir kadang lupa masak dan enggan keluar untuk cari makan. Walhasil, go food cari penyelamat piring harian

Namun, saya suka bingung. Kanong kain yang sebelumnya jadi misi penyelmaatan lingkungan, sekarang sudah numpuk d dua lacilemari. Berbagai merek terkenal nagkring di sana. Ada hokben, reddog, alfamart, kopi, ditambah lagi totebag hasil acara kampus dan konferensi. Sangking banyaknya bingung mau di kemanakan tas-tas itu. Sudah tak tertolong lagi.

Setiap minggu bukannya makin berkurang, malah nambah lagi. Kadang-kadang, teman yang bawa oleh-oleh dari luar kota dengan kantong kainnya. Tak mungkin kan dikembalikan lagi. Kadang-kadang, ke luar tanpa beli-beli, malah ujungnya beli kebutuhan pribadi. Terpaksa beli kantung kain lagi.

Bisa dikatakan, kantung kain memang ramah lingkunga. Namun kalau kebanyakan, ia jadi masalah baru tak terpecahkan. Kadang beli sesuai keinginan, namun lebih sering lagi terpaksa karena taka ada pilihan lain.

Bukan tanpa alasan, peraturan ini sudah terekam dalam berbagai peraturan. Misalnya, Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 142 Tahun 2019 tentang penggunaan kantong belanja ramah lingkungan pada pusat perbelanjaan. Pada Bab III pasal 4 ayat 2 disebutkan, “terhadap kewajiban pengelola pusat perbeanjaan, toko swalayan, dan passer rakyat wajiab menggunakan kantong belanja ramah lingkungan dna dilarang menggunakan kantong belanja plasik sekali pakai”.

Padahal jika dilihat dari ke ramahan lingkungan, Kantung plastikjuga sama-sama membahayakan.

Pertama, dari asal bahan, proses pengelolaan bunga kapas menjadi kain memakan banyak energi. Prosesnya setidaknya menyumbang 598,6 Pon CO2  per lembar yang ternyata lebih besar disbanding dari plastic dan kantung kertas. Dilihat dari daya urai, si kain juga tak berbeda jauh dari kantung plastic. Meskioun bisa terurai, waktunya cukup lama. Apalagi jika menggunakan kain sintesisa, bisa sampai 40 tahun lamanya.

Posted in

Leave a comment