• Jangan Asal Kasih Es: Pelajaran Cultural Relativism dari Secangkir Teh

    Sebagai warga Indonesia, bongkahan es batu dicampur dengan teh manis menjadi minuman favorit semua kalangan. Minuman ini jadi pilihan paling aman menemani berbagai jenis makanan, dari cemilan sampai makanan besar. Namun, ternyata tak semua minuman teh itu cocok dipasangkan dengan es batu. Intervensi es batu terhadap ideologi chai justru menjadi bentuk penistaan. 

    Berkenalan dengan Chai Pakistan

    Saya tinggal di lingkungan dengan beragam kewarganegaraan. Salah satunya adalah negara Pakistan.

    Dalam kesehariannya, kawan-kawan saya ini sering kali membuat minuman bernama ‘chai’. Minuman ini terbuat dari campuran susu segar, teh hitam, kapulaga, jinten, dan gula. Kadang pula ditambah garam agar seimbang. Semuanya direbus bersamaan sampai mendidih.

    Biasanya mereka menyeruput teh ini di pagi atau sore hari, sambil ditemani dengan roti chanai atau sekadar  diteguk tanpa embel-embel hidangan lainnya.

    Beda Budaya, Beda Cara Penyajian

    Suatu ketika, ketika saya mampir ke dapur. Salah seorang kawan asal Pakistan kebetulan sedang memasak minuman ini. Ia menawarkan segelas chai.

    Suhunya tentu panas. Secara refleks, saya menambahkan bongkahan batu ke dalam gelas. Wajar, bukan? Toh, kita biasa menambahkan es ke dalam teh manis agar lebih segar. Bukankah chai sama juga? Apalagi cuaca Depok lumayan tak bersahabat.

    Namun, ekspresi marah terpancar dari wajahnya. Sambil bertanya dengan sedikit agak menyindir

    “Kenapa ditambahin es?,” tanyanya

    “Biar lebih segar,” jawab saya sambil mengaduk minuman.

    “Es bikin rasanya berubah,” timpalnya.

    Kawan saya itu meminta saya untuk menyeruput teh dalam gelas apa adanya. Dipikir-pikir, masuk akal juga. Es yang mencair justru akan mengurangi keautentikan rasanya. Rasanya tidak sekuat seperti sedia kala.

    Menambahkan Es Justru Membuat Patah Hati

    Di lain kesempatan, kawan yang lainnya juga menyuguhkan teh chai ini. Niat hati bercanda, “Bagaimana kalau tambahkan es batu?”, tanya saya sambil becanda

    “Jangan. Itu bikin saya patah hati”

    Dari sini, saya belajar bahwa jangan sembarangan untuk menambahkan bahan makanan lain di jenis makanan orang lain. Rupanya berbagai jenis makanan tak sekedar kudapan. Ia juga jadi identitas bangsa.

    Perbedaan komposisi teh juga berbeda. Di es teh manis, kita hanya membutuhkan air, teh, dan gula. Sedangkan di chai, komposisinya lumayan kompleks. Mungkin itu yang menjadi alasan kawan saya tadi kekeh kalau es teh manis dan chai itu jauh berbeda.

    “Bahan-bahan es teh manis jelas berbeda dengan chai,” jelasnya ketika saya menyamakan es teh manis dengan chai.

    Teh dan Cultural Relativism

    Bisa ditarik lebih jauh, isu teh dan es ini mengingatkan saya dengan konsep universalism dan cultural relativism. Tulisan ini adalah salah satu gambaran kecil tentang cultural relativism. Maksudnya, segala sesuatu punya budaya masing-masing, nilai masing-masing, alias value masing-masing. Kalau dipaksakan mempunyai value yang sama, bisa jadi justru muncul masalah. Tak cocok.

    Ibarat cara menyapa. Di satu budaya, menatap mata lawan bicara bisa dianggap sebagai bentuk penghormatan. Namun, di budaya lain, justru menundukkan pandangan kepada orang yang lebih tua merupakan bentuk kesopanan. Tindakannya berbeda, tetapi keduanya lahir dari nilai yang sama-sama dianggap baik oleh  masing-masing golongan.

    Mungkin begitulah chai dan es batu. Bagi kita, es batu adalah simbol kesegaran. Bagi mereka, memasukkannya ke dalam chai justru mengubah sesuatu yang sejak awal sudah punya cara sendiri untuk dinikmati.

  • Potret Indonesia di Animal Farm: Kemajuan Negeri Jadi Alasan, Keuntungan Para Penguasa Di Balik Kebijakan

    Animal Farm,”

    Adalah jawaban Prof. Zainal Arifin, atau akrab disapa Ucheng, di salah satu akun media sosial ketika diwawancarai buku rekomendasi karya orang Barat. Jawabannya sedikit menyinggung salah satu menteri yang mengklaim bahwa penulis lokal itu subjektif.

    Setelah khatam novel kecil ini, saya semakin paham. Mereka, sang pembuat onar yang sekarang duduk manis di bangku pemerintahan, mempunyai akal bulus dari A-Z untuk meraup keuntungan dari berbagai kebijakan. Sering kali kebijakan dibuat dengan mengatasnamakan pengembangan dan kesejahteraan. Namun, sering kali omongan itu hanya berhenti sebagai kata-kata yang terdengar manis diucapkan.

    Para Babi Pembuat Kebijakan

    Di novel tipis itu, diceritakan para babi membuat tujuh prinsip utama yang harus dipegang erat oleh para hewan. Katanya, tujuh poin ini adalah jiwa dari Animalism, alias paham kebinatangan.

    Ketujuh poin itu berbicara tentang siapa yang menjadi musuh dan teman, larangan mengenakan pakaian, tidur di atas ranjang, minum alkohol, membunuh sesama hewan, hingga prinsip bahwa semua hewan adalah setara. Tujuannya satu, yaitu menunjukkan bahwa hewan bukan hanya bisa terbebas dari eksploitasi manusia, tetapi juga bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan manusia.

    Memang sangat terdengar manis sekaligus menjanjikan. Terkesan sangat menjunjung nilai-nilai mulia kebinatangan. Sampai suatu ketika, si ketua babi bersama anak-anak buahnya mulai terlena dan mengabaikan isi tujuh prinsip tadi. Tetapi alasannya selalu sama: demi kebaikan bersama dan keberlangsungan hidup hewan yang sejahtera.

    Jika para babi diperlakukan istimewa, katanya, mereka memang pantas mendapatkannya. Mereka adalah hewan yang paling banyak berpikir. Mereka yang bekerja keras. Mereka yang memimpin revolusi. Jadi, sudah sepantasnya mendapatkan hak istimewa.

    Membaca bagian tadi, rasanya tidak terlalu asing dengan sederet kebijakan para pembangku kebijakan akhir-akhir ini.

    Berbagai narasi dilontarkan. Katanya program-program tersebut untuk mendukung kemajuan. Untuk kesejahteraan. Untuk masa depan. Untuk Indonesia Emas.

    Pertanyaannya kemudian sederhana: siapa yang sebenarnya paling menikmati keuntungan semuanya?

    MBG, Dari Makanan Beracun sampai Jejak Kaum Elite

    MBG menjadi salah satu panggung yang menarik untuk melihat bagaimana sebuah program dengan niat yang sangat mulia bisa bersinggungan dengan kepentingan yang jauh lebih besar.

    Programnya sederhana: anak-anak mendapatkan makanan bergizi.

    Tetapi ketika program itu masuk ke dalam mesin birokrasi, ceritanya menjadi jauh lebih panjang. Ada dapur, vendor, pengadaan barang, kendaraan, anggaran, dan berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.

    Ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), misalnya, kemudian menjadi bagian dari ekosistem besar yang tidak hanya berbicara soal makanan anak sekolah. Melainkan juga sebagai roda penggaet suara orang lemah, begitu pun dengan kantong-kantong anggaran yang diraup habis oleh kalangan elit pemerintah.

    Belum lagi berbagai pengadaan yang kemudian mengundang tanda tanya. Dari motor listrik, kaos kaki, sampai semir sepatu yang harganya di luar nalar.  Katanya barang-barang tadi jadi pendukung pelayanan, meskipun kelihatan sekali hanya ingin menghabiskan jatah uang dengan mark-up anggaran.

    Sengaja Lupa Skala Prioritas

    Segelintir kebijakan dan anggaran digelontorkan untuk program makan. Dampaknya? Sektor lain malah disuruh diet.

    Anggaran Perpusnas dipotong 48 persen dari tahun sebelumnya. Hampir setengahnya. Walhasil, berbagai program literasi mandek. Kini, mereka tak lagi mengirim buku ke pelosok desa, lapas, maupun pojok-pojok bacaan lainnya.

    BMKG sudah berkali-kali memperingatkan bahaya El Niño terhadap gambut dan kawasan hutan ketika musim kemarau tiba. Informasinya sudah ada. Peringatannya sudah disampaikan.

    Tapi entah kenapa, informasi itu sering terdengar seperti notifikasi WA: muncul, dibaca sekilas, lalu di-swipe. Ketika api sudah membesar, barulah semua orang sibuk. Pemadaman dilakukan dan rapat digelar. Pernyataan dikeluarkan. Kamera kembali menyala. Padahal, mencegah kebakaran mestinya lebih murah daripada memadamkannya setelah api menjalar ke mana-mana.

    Kini, Pulau Borneo dihiasi titik-titik merah. Bukan lampu kota. Bukan pula hiasan peta. Titik itu adalah kobaran api yang menyebar ke penjuru arah.  

    Hutan-hutan adat tanah Papua jadi objek nasional mengatasnamakan ketahanan pangan. Ia dibabat habis berganti jadi sawah. Hutan yang awalnya rumah bagi masyarakat lokal, ia sekarang berubah jadi ladang pangan, yang untungnya lagi-lagi mengalir ke kantong pemangku kebijakan. Masyarakatnya? Malah kelaparan.

    Bahasa Manis Stimulus Kebijakan

    Mungkin ini salah satu pelajaran terbesar dari Animal Farm.

    Langgengnya kekuasaan hanya membutuhkan kata-kata manis.  Pembangunan. Kesejahteraan. Pemerataan. Indonesia Emas. Ketahanan pangan.

    Siapa yang berani menolak semua kata itu?

    Masalahnya bukan pada kata-katanya. Masalahnya muncul ketika kata-kata tersebut digunakan untuk menutupi pertanyaan yang lebih penting: siapa yang diuntungkan? Atau, sebenarnya siapa yang sejahtera?

    Jika para babi melanggar nilai-nilai kebinatangan, mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka sedang mengkhianati revolusi. Mereka selalu punya alasan. Semua dilakukan demi keberlangsungan peternakan. Demi kemajuan bersama. Demi masa depan seluruh hewan. Sesuatu yang menguntungkan segelintir orang dapat terlihat mulia ketika dibungkus dengan kepentingan bersama.

    Dalam Animal Farm, para hewan perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan propaganda. Selain babi, para hewan yang lain terus bekerja, mendengar pidato, lalu kembali bekerja. Manut, tak punya kuasa apa-apa.  

    Tanggal Lahir Yang Sama

    Lucunya, novel kecil ini rupanya punya ulang tahun yang sama dengan Indonesia. Ia terbit untuk pertama kali di Inggris tanggal 17 Agustus 1945,  persis, hari yang sama dengan bendera merah putih dikibarkan di Jakarta. Para babi dan manusia sama saja. Indentik serupa.

  • Di Persimpangan

    Seorang gadis berjalan tiga ratus meter dari rumahnya

    Kini ia berdiri di persimpangan

    Papan petunjuknya mulai kusam

    Mungkin dimakan lapuk usia dan guyuran air hujan

    …..

    Seorang kakek tua menghampirinya

    “Kenapa, dik?” tanyanya

    “Saya mau ke toko Malia. Mau beli pena, Pak,” jawab gadis itu 

    “Arahnya sini, Dik,” jawab si kakek sambil mengarahkan tangannya ke belok kanan

    …….

    Gadis tadi mengikuti nasihat si kakek

    Katanya, sebelum berpisah tadi, jaraknya mungkin lima menit lagi

    Namun, yang mengusik, ternyata ada toko lain di samping perempatan tadi

    Juga menjual pena, keterangan di papan baliho

    …..

    “Ibu, ada pena?” tanya si gadis ke pada penjual

    “Ini, dek. Mau yang standard apa pilot?”, sambil menunjukkan etalase yang berjejeran

    “Pilot, Bu. Satu,” jawabannya sambil mengeluarkan isi dompet

    ……

    Walhasil, ia membawa pulang pena

    Meskipun didapat dari toko yang berbeda

    …..

    Gusti Allah memang sering kali mendatangkan jalan-jalan lain

    Si hamba menginginkan itu, namun Ia berkehendak atas ini

    Kadang, jalannya lebih panjang, kadang juga secepat kedipan mata 

  • Depok dan Kenangan yang Kan Ku Rindu Nanti

    Kota di Jawa Barat yang Sering Dianggap Anomali

    Penyebaran virus covid pertama kali

    CFD dengan debus nan beragam aksi

    Kasus terbaru bahkan ada mutilasi

    …….

    Namun, Depok, terutama penghuninya akan saya kenang hingga nanti

    Teman-teman kelas di jenjang master yang teramat baik hati

    Dosen yang selalu memotivasi

    Para staff yang selalu menyapa setiap kulewati

    …….

    Apalagi di UIII

    Ia ibarat kawasan tersendiri

    Saat Jalan Raya Bogor macet setiap hari

    Di dalam kampus malah lengang bak jalan mati

    …….

    Saat cuaca terik ditambah polusi menghantam diri

    Di UIII dibilang cukup adem karena ada pohon rindang melindungi

    Ya, walaupun pohon itu belum terlalu tinggi

    Setidaknya pengguna trotoar bisa bersembunyi dari terik matahari

    ……

    Dua minggu lagi, sepertinya cerita ini hanya menjadi kenangan nanti

    Sebentar lagi harus pergi

    Meninggalkan untuk sementara ini

    Semoga nanti bisa balik lagi

    …….

    Terima kasih, Depok

  • Catatan Buku: Menghilang, Menemukan Diri Sejati oleh Fahruddin Faiz

    Tulisan Tempo dua bulan lalu, di halaman marginalia, menarik perhatian saya. Judulnya Underdog Piala Dunia”. Penulis menyematkan julukan itu kepada Timnas Tanjung Verde ketika berhadapan dengan Spanyol. Menariknya, menurut penulis, orang-orang justru sering kali mendukung tim yang kurang diunggulkan ini.

    Spanyol dan Tanjung Verde memiliki nasib yang berbeda. Dalam perhelatan Piala Dunia yang sudah berlangsung hampir seabad, Spanyol sudah menjadi langganan tim yang berlaga. Sebaliknya, Tanjung Verde baru menjadi tim debutan pada 2026. Meskipun begitu, ternyata Tanjung Verde berhasil mendudukkan hasil yang sama, 0-0 sampai menit terakhir pertandingan. Mereka berhasil memainkan ritme permainan yang apik meskipun tak ada jaminan mengungguli lawannya sejak awal.

    Sebagai tim underdog, nasib Tanjung Verde mengingatkan penulis pada Sisifus dalam Le Mythe de Sisyphe karya Albert Camus. Dalam mitologi Yunani, Sisifus dikutuk untuk mengangkat sebuah batu besar ke puncak gunung. Namun, setiap kali hampir sampai di puncak, batu itu kembali menggelinding ke bawah. Lalu, ia mengangkatnya lagi. Begitu terus, tanpa akhir.

    Potongan cerita ini ternyata pernah saya baca sebelumnya dalam buku Menghilang, Menemukan Diri Sejati karya Fahruddin Faiz. Dalam buku ini, Fahruddin Faiz menghadirkan berbagai konsep filsafat dari para filsuf, baik dari Barat maupun Timur.

    Namun, sebelum lanjut, saya sarankan untuk mengambil segelas kopi terlebih dahulu sebagai teman membaca artikel ini. Sebagai tambahan, ulasan ini akan sedikit memberikan spoiler mengenai isi buku. Jadi, bagi yang ingin mendapatkan kejutan ketika membacanya langsung, bisa langsung skip saja.

    René Descartes, Sang Penggagas Rasionalisme

    Bagian pertama dalam buku ini mengajak kita berjabat tangan dengan tokoh pertama, René Descartes. Ia dikenal dengan sosok yang pertama kali mengenalkan aliran rasionalisme.

    Rasionalisme sendiri menekankan peran rasio atau akal sebagai sumber penting pengetahuan. Berbeda dengan pendekatan empiris yang lebih mengandalkan pengalaman inderawi, Descartes meyakini bahwa akal memiliki peran penting untuk memahami kenyataan.

    Contoh sederhananya begini. Ketika melihat gunung dari kejauhan, mata kita mungkin menangkap permukaannya sebagai sesuatu yang halus. Namun, akal mengatakan bahwa gunung itu tidak benar-benar halus. Di sana ada banyak pohon, bebatuan, dan jurang. Kesimpulan tersebut tidak semata-mata diperoleh dari apa yang ditangkap oleh mata, tetapi juga melalui kerja akal.

    Adagium “aku berpikir, maka aku ada” (cogito ergo sum) juga berasal dari filsuf kelahiran Prancis ini.

    Berintuisi Bersama Henri Bergson

    Jika Descartes sebelumnya mengelu-elukan akal, Bergson justru menunjukkan keterbatasannya. Menurut Bergson, akal memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara rasional.

    Apa contohnya? Cinta, misalnya. Akal kadang tidak bisa berkutik ketika berhadapan dengan cinta. Selain akal dan pancaindra, ada alat lain yang dapat membantu manusia memahami pengalaman semacam itu, yaitu intuisi.

    Sayangnya, di era modern ini, intuisi sering kali termarginalkan alias dipandang sebelah mata. Pandangan yang lebih empiris dan rasional dianggap lebih superior.

    Gagasan tentang intuisi ini juga erat kaitannya dengan tradisi agama dan spiritualitas. Dalam konteks Islam, misalnya, pengalaman spiritual dapat dikaitkan dengan bentuk pengetahuan yang tidak diperoleh semata-mata melalui proses rasional dan empiris. Kita mengenal wahyu, ilham, hingga ilmu laduni. Dalam tradisi tasawuf, bahkan terdapat kisah-kisah tentang orang-orang saleh yang memperoleh pengetahuan tanpa melalui proses belajar sebagaimana biasanya.

    Di balik penjelasan konseptual tentang pemikiran masing-masing filsuf, pada setiap subbabnya Pak Faiz berhasil menghadirkan nilai-nilai filosofis yang dekat dengan kehidupan pembaca.

    Ambil contoh ketika membahas intuisi ala Bergson. Pak Faiz juga menyinggung tentang jenis emosi manusia. Ada emosi yang bersifat normal dan ada pula yang kreatif. Misalnya, ketika kita merasa sedih karena diputuskan pasangan, itu adalah perasaan yang normal. Namun, ketika perasaan tersebut kemudian diolah menjadi sebuah puisi galau, itulah yang disebut sebagai emosi kreatif. Ketika jatuh cinta, jika berhasil menggambarkan perasaaan dalam bait-bait puisi itu juga disebut emosi kreatif.

    Oleh karena itu, ketika sedang mengalami sesuatu, coba saja mengolahnya menjadi emosi kreatif. Sedih tidak harus berhenti sebagai kesedihan. Bisa jadi, ia justru menjadi bahan bakar untuk melahirkan sesuatu.

    Absurditas ala Albert Camus

    Setelah dibenturkan dengan dua konsep tentang akal dan intuisi, Pak Faiz kemudian membawa pembaca tenggelam dalam konsep absurditas ala Albert Camus.

    Hidup itu absurd alias tidak selalu jelas. Kurang lebih, itulah gagasan utamanya. Absurd di sini bukan sekadar berarti hidup tidak masuk akal, tetapi ada begitu banyak pertanyaan dalam hidup yang tidak memiliki jawaban pasti. Ada pula banyak hal yang terjadi tanpa alasan yang sepenuhnya bisa kita pahami.

    Misalnya, kebahagiaan. Kita bisa saja merasa bahagia ketika sedang miskin, kalah, atau berada dalam kondisi yang menurut orang lain seharusnya tidak membahagiakan. Tidak ada rumus pasti tentang kapan seseorang harus bahagia.

    Sejak lama, para filsuf juga beradu jawaban tentang pertanyaan besar: apa makna hidup? Apa tujuan hidup? Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu memiliki jawaban yang pasti. Di situlah absurditas hadir.

    Satu cerita dari mitologi Yunani tentang Sisifus sudah saya singgung di pembuka. Sisifus dihukum untuk membawa batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya kembali menggelinding ke bawah. Ia bisa saja menyerah. Ia bahkan bisa memilih mengakhiri hidupnya. Namun, ia tetap menjalani siklus yang sama berulang kali. Menerima nasibnya, bahkan bisa dibilang menikmatinya.

    Karena itu, saya punya kesimpulan sederhana: kalau sedang galau dan bimbang, mungkin ngopi dulu saja. Jangan buru-buru menyerah pada kehidupan yang memang kadang begini-begini saja.

    Menemukan Diri melalui Tradisi Timur

    Setelah diajak berkelana dengan pemikiran para filsuf dari Barat, pada bagian setengah terakhir buku ini pembaca dikenalkan dengan berbagai tradisi keagamaan, mulai dari Hindu, Buddha, hingga Zen, salah satu tradisi yang berkembang dalam Buddhisme.

    Pola penjelasannya hampir sama. Pada awalnya, Pak Faiz mengenalkan sejarah dan latar belakang tradisi tersebut. Setelah itu, barulah pembaca diajak melihat bagaimana masing-masing tradisi memiliki cara untuk menemukan jati diri melalui konsepnya sendiri.

    Dalam ajaran Zen, misalnya, dikenal praktik meditasi dan pencarian jati diri. Ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, praktik ini bisa dilakukan dengan merenungkan diri sejenak sebelum atau sesudah bangun tidur, mengingat kembali apa yang telah dilakukan kemarin dan memikirkan apa yang akan dilakukan hari ini.

    Sebenarnya, Pak Faiz tidak secara gamblang menempatkan Islam sebagai satu subbab khusus dalam buku ini. Namun, ia beberapa kali menghadirkan konsep-konsep Islam yang memiliki kemiripan dengan gagasan para filsuf maupun tradisi agama lainnya.

    Misalnya, ketika membahas meditasi, penulis juga menyinggung salat sebagai salah satu sarana meditasi bagi seorang Muslim. Dengan begitu, pembaca Muslim seperti saya bisa menemukan kembali praktik-praktik yang sebenarnya sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

    Refleksi Setelah Membaca Buku

    Sebenarnya, saya sudah membaca buku ini beberapa kali, meskipun loncat-loncat. Kemudian, saya semakin intens membacanya kembali ketika berada di masa akhir perjalanan studi master.

    Tahap kehidupan setelah jenjang master, saya kira, sangat relate dengan judul buku ini “Menghilang, Menemukan Diri Sejati

    Ada fase ketika seseorang perlu berhenti sejenak, menghilang dari hiruk-pikuk, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: setelah ini mau ke mana? Apa yang sebenarnya ingin dicari? Apa yang ingin dilakukan pada chapter kehidupan berikutnya?

    Membaca buku ini bagi saya bukan hanya tentang merencanakan langkah-langkah baru, tetapi juga belajar menerima bahwa tidak semua langkah bisa direncanakan. Ada takdir-takdir yang memang tidak bisa diprediksi.

    Ingat kata Camus: hidup itu absurd. Tidak ada yang benar-benar pasti. Jadi, apa pun yang dilakukan ke depannya, mungkin kita perlu belajar menikmatinya. Kalau belum menemukan jawabannya, setidaknya seruput dulu segelas kopi.

    Banyak sekali kalimat motivasi dalam buku ini yang tidak sanggup hanya saya potret lalu dibiarkan bertengger di galeri ponsel. Beberapa kali saya bahkan membagikan kata-kata indah Pak Faiz melalui Instagram Story. Barangkali, itu salah satu tanda bahwa buku ini berhasil meninggalkan sesuatu setelah selesai dibaca.

    Terakhir, sebagai seseorang yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan filsafat karena menganggapnya ruwet, Faiz berhasil membuat saya jatuh cinta pada filsafat.

  • Menyandang Status Baru Sebagai Tamu

    Saat pengunjung lain repot-repot mengisikan info diri satu per satu,

    member UIII cukup menempelkan kartu

    Kartu UIII memang punya kesaktian tersendiri di perpustakaan itu

    Tak perlu bayar administrasi, sekaligus bisa bebas pinjam buku

    Sayang, hari ini privilege itu tidak lagi berlaku

    Terbitnya UIII Clearance membuat status menjadi baru

    kolom yang dipilih bukan lagi anggota, melainkan tamu

    Selepas ijazah keluar, statusnya berubah lagi menjadi public, bayar sepuluh ribu

    Menjadi murid memang seru

  • Satu Paragraf Dibayar Segelas Kopi

    Rupanya, ide brilian tak bisa datang seenaknya lagi

    Ia harus dipancing berbagai strategi

    Misalnya dengan segelas kopi

    Entah normal sugar, less sugar, atau tanpa tambahan sama sekali

    Dalam gelas berkapasitas dua ratus mili

    ……..

    Walhasil, kafe yang dulu asing dan harus kupikir dua kali untuk disinggahi

    Kini justru menjadi tongkrongan seminggu dua kali

    ……….

    Lidah pun perlahan beradaptasi

    Yang mulanya tak sudi merasakan rasa pahit kopi murni

    Sekarang malah ketagihan sendiri

    Apalagi ditemani dengan sepotong ubi

    Yang dibawa ke pojokan kafe sambil sembunyi-sembunyi

    ………

    Hentakan Americano lumayan membuat jari menari-nari

    Ide-ide yang sebelumnya ngandet, kini mengalir deras di file word tesis UIII

    ……….

    Kopi Kenangan Cimanggis Barat, 07/07/2026

  • Serba-serbi Hukum Islam, Ternyata Tak Melulu Soal Halal Haram

    “Hukumnya haram apa halal?”

    Mungkin itu pertanyaan yang paling sering muncul ketika berbicara tentang fikih. Dulu saya juga berpikir begitu. Namun, lambat laun saya sadar bahwa membaca teks-teks fikih tidak melulu soal apakah hukumnya halal atau haram. Ada sederet kacamata lain yang bisa dipakai untuk meninjaunya.

    Tradisi Membaca Fikih di Pesantren

    Saya mulai mengenal fikih sejak duduk di bangku Madrasah Diniyah, mungkin sekitar usia sepuluh tahun. Hal pertama yang dikenalkan kepada para murid tentu seputar hukum taklifi. Ada lima kategori hukum: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Polanya template begitu terus, berulang-ulang.

    Walhasil, kami dilatih untuk menghafal berbagai perbedaan pendapat para ulama. Bagaimana ulama empat mazhab berbeda pandangan mengenai suatu persoalan, entah karena perbedaan dalil, metode istinbat, takyif fiqhi, atau faktor lainnya.

    Di forum Bahtsul Masail pun demikian. Isu-isu nawāzil alias fenomena baru yang belum pernah dibahas sebelumnya akan diarahkan pada satu pertanyaan utama: apa hukumnya? Halal, haram, atau mungkin masuk ke tiga kategori hukum lainnya.

    Bukan berarti saya meremehkan pendekatan seperti ini. Tentu tidak. Saya tetap  mengagumi warisan para ulama dan tradisi keilmuan Islam yang selama belasan tahun saya nikmati.

    Hanya saja, saya mendapat angin segar ketika mulai bergelut dengan teks-teks fikih di sekolah Depok. Alih-alih menempatkan diri sebagai mujtahid, mufti, atau ustaz yang harus menentukan hukum atas fenomena-fenomena baru, di sekolah baru ini saya justru diperkenalkan pada cara membaca fikih sebagai seorang outsider.

    Pertanyaannya bukan lagi “apa hukumnya?”, tetapi “mengapa pendapat itu muncul?” dan “bagaimana konteks sosial, politik, bahkan geografis ikut membentuknya?”. Mungkin biasa bagi sebagian orang, tapi sangat baru bagi saya pribadi.

    Haram dan Situasi Politik yang Menyertainya

    Jika terpaksa membahas soal hukum haram atau hukum taklifi lainnya, pendekatannya bukan dengan menganalisa dalil apa yang dipakai, tetapi situasi politik apa yang melahirkan hukum tersebut.

    Saya memulainya dari salah satu sebuah buku berjudul Coffee and Coffeehouses: The Origins of a Social Beverage in the Medieval Near East karya Ralph S. Hattox yang membahas pelarangan kopi di Makkah pada awal abad ke-16. Ringkasannya juga sudah dimuat oleh dosen pembimbing saya sebelumnya, Dr. Zezen di blog pribadinya.

    Sekilas, kasus yang dimuat buku tersebut tampak sederhana: Kopi sempat diharamkan oleh otoritas resmi pemerintah saat itu. Bahkan, warung-warung kopi juga ditutup paksa. Tetapi ketika dibaca lebih jauh, ternyata persoalannya tidak sesederhana itu.

    Hattox berargumen bahwa, selain alasan kesehatan yang dikemukakan resmi, larangan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kandungan kopi. Yang lebih membuat otoritas pemerintahan khawatir justru kebiasaan masyarakat berkumpul hingga larut malam sambil minum kopi. Kekhawatiran itu bermula ketika ia melihat sekelompok orang berkumpul di salah satu sudut masjid  pada malam hari.

    Artinya, yang dipersoalkan bukan kandungan kopinya, tetapi juga aktivitas sosial di baliknya. Ada kekhawatiran bahwa ruang-ruang berkumpul seperti itu dapat memengaruhi stabilitas sosial dan politik. Ada bibit-bibit pembangkangan dari kegiatan ngopi.

    Membaca kasus ini membuat saya sadar bahwa fatwa tidak selalu lahir semata-mata karena teks agama. Terkadang ada konteks sosial dan politik yang ikut memengaruhi lahirnya sebuah keputusan hukum.

    Soal Transformasi di Dunia Modern

    Masih banyak cara lain untuk membaca teks-teks fikih. Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana hukum Islam mengalami transformasi pada era modern.

    Di awal perkuliahan Islamic Law, saya dibuat mengangguk-angguk ketika mengetahui betapa majunya tradisi keilmuan para ulama Muslim sejak masa awal. Mungkin, khazanah keilmuan ini tidak ditemukan di peradab lainnya. Tidak heran jika begitu banyak sarjana non-Muslim yang tertarik meneliti khazanah hukum Islam.

    Namun, memasuki abad ke-19, ketika proyek modernisasi sedang berkembang pesat dan Barat mulai dianggap sebagai kiblat peradaban, cara penyusunan hukum Islam pun ikut berubah.

    Di Kesultanan Utsmani, tepatnya antara tahun 1869–1877, lahirlah Mecelle-i Ahkâm-ı Adliyye atau Majallah Ahkam Adliyyah. Untuk pertama kalinya, kaidah-kaidah fikih dan hukum muamalah disusun secara sistematis sebagai pedoman resmi negara. Bentuknya tidak lagi berupa syarah atau hasyiyah yang memuat berbagai pendapat ulama, melainkan ringkas, normatif, dan hanya memilih satu pendapat yang dianggap paling layak diterapkan oleh negara.

    Para sarjana Barat membahas isu ini panjang kali lebar kali tinggi. Ada yang menganggapnya ‘not Islamic law at all’, ada pula yang hanya menganggapnya sebagai hukum sekular, ada pula yang menganggapnya tak lebih dari sekedar ‘digest’ atau ringkasan.

    Romannya, isu transformasi berbagai istilah yang terhimpun dalam doktrinal hukum Islam terjadi di berbagai topik lainnya. Banyak artikel lain yang memahas soal makna ‘syahid’ yang ikut mengalami perubahan di era modern, pun dengan istilah-istilah lainnya seperti ‘jihad’. Teman-teman saya juga ikut menyumbang transformasi semacam ini. Ada yang meneliti soal perubahan makna ‘adalah’ ada pula makna ‘kafir’. Saya akui ini jadi topik yang menarik dalam kaitannya soal islamic law dan modernity.

    Berbeda Cara Pandang Soal Maqasid

    Pengalaman serupa saya rasakan ketika mempelajari maqāṣid al-syarī’ah. Sebelumnya, kalau berbicara tentang maqāṣid, biasanya yang kami bahas sejauh mana doktrinal hukum Islam, menikah misalnya, mengakomodir maqasid hifz nasl.

    Rupanya, ketika masuk ke kajian yang lebih lanjut, justru muncul pertanyaan yang berbeda. Yang diperdebatkan bukan lagi apakah suatu kebijakan sesuai dengan maqāṣid, melainkan bagaimana konsep maqāṣid itu sendiri mengalami perubahan.

    Salah satu tulisan dosen saya, Dr. Marekeby berjudul al-Ḥadāthah wa Taḥawwulāt al-Khiṭāb al-Maqāṣidī: Naḥwa Fiqh Sāʾil, membahas bagaimana modernitas memengaruhi perkembangan teori maqāṣid. Jika pada awalnya maqāṣid hanya dikenal dengan lima tujuan pokok, pada era modern daftar tersebut semakin mberkembang biak. Salah satunya adalah munculnya konsep ḥifẓ al-dawlah (perlindungan negara), yang jelas mencerminkan semangat negara-bangsa modern.

    Dulu saya mengira belajar fikih berarti mencari jawaban atas pertanyaan “halal atau haram”. Sekarang saya mulai menikmati pertanyaan yang berbeda: mengapa sebuah hukum dan doktrinal lainnya lahir, dalam situasi apa ia dirumuskan, dan bagaimana sejarah, politik, bahkan modernitas ikut membentuknya. Ternyata, membaca kitab fikih bukan sekadar mencari hukum, tetapi juga membaca perjalanan sebuah peradaban.

  • Seandainya Hadis Lahir di Cianjur: Bukan Sungai yang Mengalir Dari Surga, Melainkan Curug yang Turun dari Sana

    Sungai Jeihun, Seihun, Nil dan Eufrat dinobatkan sebagai sungai yang mengalir dari surga. Begitu bunyi suatu hadis Nabi. Pikiran liar saya, seandainya hadis itu diucapkan Nabi di Indonesia—Cianjur, Jawa Barat misalnya—,mungkin narasi yang paling tepat bukan tentang sungai yang mengalir dari surga, melainkan curug yang turun sana.

    Sungai Dalam Kajian Kitab Turos

    Dalam perjalanan menulis tesis, saya membaca banyak kitab klasik ulama dari abad ke-7 hingga abad ke-15 Masehi. Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana mereka mengklasifikasikan jenis-jenis air, termasuk sungai.

    Hampir senada, para ulama mengklasifikasikan sungai besar dengan istilah nahr ʿaẓīm (sungai besar), nahr ʿāmm (sungai publik), dan nahr ghayr mukhtaṣṣ (sungai yang tidak dimiliki secara khusus oleh siapa pun). Sungai jenis ini memiliki debit air yang melimpah sehingga para petani tidak perlu berebut air, membuat pembagian giliran (maqāsim), atau berselisih karena lahan pertanian mereka.

    Dalam membahas sungai ini, ada satu narasi yang menurut saya menarik. Sungai besar juga sering dinobatkan dengan istilah mā ajrāhu Allāh—sungai yang airnya dialirkan oleh Allah. Maksudnya, manusia tidak perlu repot menggali sungai tersebut. Airnya keluar dan mengalir secara alami dengan sendirinya.

    Hadis Nabi: Sungai-Sungai yang Berasal dari Surga

    عن أبي هريرة قال رسول الله سَيْحَان وَجَيْحَان وَالْفُرَات وَالنِّيل كُلّ مِنْ أَنْهَار الْجَنَّة  

    “Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Seihan, Jeihan, Eufrat, dan Nil semuanya adalah sungai-sungai surga” (HR Muslim).  

    Dalam menguliti maksud hadis ini, Imam Nawawi dalam Syarhnya terhadap Sahih Muslim, juz 17, hal 177 menyebutkan, ada dua penjelasan mengenai makna hadis ini. Pertama, dan makna lebih simbolik, yang dimaksud surga dalam hadis tersebut karena wilayah yang dialiri sungai tersebut menjadi tempat menyebarnya iman dan peradaban Islam. Bisa juga dimaknai dengan artian bahwa banyak orang-orang yang memperoleh kebaikan dari sungai tersebut dan mengantarkannya ke surga. Pendapat kedua, hadis tersebut dimaknai secara literal. Maksudnya, sungai-sungai tersebut memang memiliki hubungan lahiriyah dengan surga dan mengandung material dari sana langsung. Menariknya, ternyata makna kedua inilah yang lebih sahih menurut Imam Nawawi.

    Dalam catatan turos, sungai memang jadi simbolik keindahan. Ia selalu dikaitkan dengan surga. Selain hadis, al-Quran sudah terlebih dahulu mengasosiakan sungai sebagai elemen kebun surga.

    Andai Hadis Lahir di Cianjur

    Dalam suatu kesempatan, saya mengunjungi Curug Cibereum yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Di sana ada tiga curug yang menjulang tinggi dengan sumber mata air gunung langsung. Setelah mengamati agak lama, saya jadi berpikir: seandainya—pakai law, bukan idhā atau in—hadis tadi diproduksi di Cianjur atau daerah sekitarnya, mungkin narasinya akan sedikit berbeda. Bukan sungai yang mengalir dari surga, tetapi air yang terjun dari langit ketujuh atau air yang terjun dari surga.

    Alih-alih mengalir dari tanah yang horizontal, keindahan curug bisa terasa lebih menakjubkan. Ia turun secara vertikal dari sumber mata air pegunungan dan terjun bebas di lembah yang menukik. Selain airnya dijadikan sumber air bagi petani, keindahannya terasa berkali lipat dipandang oleh mata. Tak hanya air, pelangi yang tercipta dari pembiasan matahari dan tetesan air terjun menjadi bonus para pengunjung.

    Lebih lanjut, saya juga berpikir, berapa kira-kira jarak harim atau zona protektif yang disandarkan ke sumber air ini. Kalau sumur saja bisa sampai 25 sampai 50 dziro, seharusnya air terjun juga lebih luas agar keindahannya tidak dirusak maupun dieksploitasi secara semena-mena.

  • 11 Bahasa Daerah Sudah Punah, Ini Sederet Privilege Bisa Berbahasa Daerah di Dunia Akademik

    Baru saja saya melihat postingan mojok bahwa ada 11 bahasa di Indonesia yang sudahpunah. Sederet bahasa yang punah ini di antaranya bahasa Tandia dari Papua Barat, bahasa Mawes dari Papua, bahasa Kajeli dan Peru dari Maluku.

    Sebenarnya, fenomena ini sudah saya saya cium sejak lama. Setidaknya ketika mulai merantau di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas di Brebes. Kebanyakan alasannya adalah karena keluarga lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di rumah. Selanjutnya, merantau jadi alasan kuat lainnya.

    Awal Mula, Saya Pikir Bahasa Daerah Itu Kampungan

    Sebagai orang yang tinggal di kampung selama kurang lebih dari 15 tahun, berbahasa Sunda jadi bahasa komunikasi setiap hari. Lingkungan keluarga dan teman bermain mempraktikannya sehari-hari.

    Mendengar orang lain berbahasa Indonesia, saya akan melabeli dia sebagai wong kota. Keren, Begitu kira-kira.  Apalagi kalau dia bisa bahasa Inggris. Bukan main namanya.  Walhasil, framing yang terbentuk adalah, bahasa internasional dan Indonesia itu keren, sedangkan bahasa daerah itu kampungan.

    Namun, lama-kelamaan, saya menyadari kalau berbahasa daerah itu punya privilege tersendiri. Ibarat kalau main bola, kamu sudah mengantongi satu gol dibandingkan dengan yang hanya bisa bahasa nasional.

    CV Jadi Lebih Menarik di Mata Dosen

    Ketika mendaftar di kampus internasional, dalam benak saya, mencantumkan bahasa asing bisa jadi kunci utama lolos masuk perguruan tinggi. Oleh karena itu, saya tulis bahasa Indonesia di kolom pertama, dilanjutkan dengan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, dan terakhir bahasa Inggris.

    Alih-alih memuji kemampuan dua bahasa asing yang saya kuasai, pewawancara malah mengkritik CV saya. Kebetulan pewawancaranya mempunyai darah keturunan Sunda. Dia juga tahu kalau daerah saya berbahasa Sunda meskipun masuk dalam wilayah Jawa Tengah.

    “Kenapa kamu ga cantumin bahasa Sunda di CV kamu. Kamu bisa Sunda, kan?” tanyanya.

    “Iya, Pak,” jawab saya.

    Sehabis wawancara itu, saya langsung mengedit CV sesuai rekomendasi. Setelah itu, saya juga selalu menggunakan versi terbaru untuk persyaratan di berbagai kesempatan.

    Kuasai Bahasa Daerah Jadi Kunci Penelitian

    Saya makin sadar kalau bahasa daerah itu jadi hal krusial dalam bidang penelitian. Paham Bahasa daerah jadi kunci untuk memahami realitas sosial. Apalagi kalau pendekatannya antropologi yang mengharuskan si peneliti hidup di tengah masyarakat. Mau ga mau, menguasai bahasa daerah setempat jadi sesuatu yang wajib bin harus.

    Dengan penguasaan Bahasa daerah, si peneliti bisa mendapatkan informasi yang lebih komprehensif. Bayangin saja kalau orang Jakarta Selatan melakukan antropologi di daerah Baduy tanpa mengetahui Bahasa mereka. Sedangkan banyak warganya masih menganut Sunda Wiwitan dan tidak tahu bahasa Indonesia, apalagi kalangan lanjut usia.

    Ketimpangan bahasa ini bisa jadi masalah serius bagi peneliti. Selain kurang luwes dalam menggali informasi, dia juga bisa jadi misinformasi karena gap bahasa yang ada.

    Oleh karena itu menguasai bahasa daerah itu malah jadi nilai plus. Kita harus bangga. Selain menjaga warisan budaya oral, bahasa juga jadi kunci penting dalam dunia akademik.

    Lebih Dekat Dengan Peneliti Senior

    Bahasa itu taktik. Taktik untuk lebih akrab dengan peneliti senior. Maksudnya, dengan menggunakan bahasa daerah yang digunakan oleh lawan bicara, bisa jadi kamu akan dianggap lebih respek. Tidak perlu berbicara full untuk mendekati senior itu, cukup degan sapaan santai yang biasa dipakai.

    Teman saya pernah bercerita bagaimana ia salah memahami konteks bahasa Jawa. Niatnya, ia ingin menggunakan sapaan agar lebih akrab dengan dosen. Panggillah dosen itu dengan sebutan ‘sampean’. Padahal, dalam hirarki bahasa Jawa, sapaan kamu untuk yang lebih tua atau dihormati itu bukan ‘sampean’, melainkan ‘panjenengan’. Alih-alih dapat pujian, ia malah kena semprot duluan.

    Berbeda dengan temannya yang sudah tahu kata aman. Panggililah peneliti senior itu dengan sebutan ‘Mas’. Berhubung ‘Mas’ lebih universal, percakapan pun tak da hambatan.

    Dari kasus ini, saya semakin bangga kalau saya bisa berbahasa Sunda. Walaupun saya Sunda perbatasan, tapi saya akan terus mencoba melestarikan.